perfect stranger.

Sudah terhitung hampir satu tahun sejak pertama kita mengenal satu sama lain.
Tepat di peron satu stasiun kota yang menjadi saksi. Aku yang sedang menunggu keretaku datang, dan kamu yang baru turun dari kereta luar kota. Tidak sengaja mata kita saling menatap satu sama lain dari kejauhan.
Hari itu menjadi awal aku mengenalmu. Tidak dalam arti mengenal yang sesungguhnya, hanya sebatas aku tahu namamu dan kamu tahu namaku. Rasanya biasa saja saat mengenalmu saat tahu namamu. 
Tidak ada bayangan akan bagaimana kita di masa yang datang.
Aku menjadi beruntung ketika kamu seolah membuka hati untukku, ketika trauma ku perlahan hilang saat bersamamu. Aku pun merasa cukup ketika aku punya kamu, walaupun sebenarnya tidak benar-benar memilikimu. Kamu yang selalu hadir di setiap hariku, yang terlihat tidak ingin cepat-cepat menyudahi percakapan kita setiap hari. Kamu yang selalu berusaha membuat aku tidak bosan dengan leluconmu, dengan obrolan-obrolan yang terkadang orang fikir tidaklah penting.
Di hari lain, lagi-lagi kita dipertemukan tidak sengaja di persimpangan jalan saat hendak menyebrang.
Lagi-lagi mata kita saling bertemu dan sadar kita sudah mengenal satu sama lain.
Aku ingat bagaimana kamu dengan tingkah lugumu mengajakku makan malam hari itu.
Tentunya, aku tidak menolak. Makanmu lahap sepertinya kamu belum makan hari itu.
Yang aku ingat malam itu, kamu bercerita bagaimana melelahkannya hari ini untukmu. Yang aku lihat malam itu, hanya senyummu yang benar-benar tulus saat memandangku. Ah rasanya aku terlalu naif untuk terus menyimpan perasaanku.
Pertemuan kita yang terbilang cepat membuat rindu ini semakin menggebu.
Hari ini aku tidak berada lagi di kotamu, kotamu indah dengan caranya sendiri sama seperti kamu. Ada magnet entah apa yang selalu membuatku ingin kembali kesana. Hanya untuk sekedar melihatmu lagi.
Rasanya ingin aku memaksa Tuhan untuk mempertemukan kita lagi, dimanapun tidak harus di kotamu aku tak apa. Tapi memaksa Tuhan tidaklah baik, seolah keegoisan hanya ada dalam diriku. Baik aku tahu Tuhan sudah mempersiapkan waktu terbaik untukku dan untukmu didepan sana. Bersabarlah aku, ini hanya persoalan 313 km kalian terpisah.
Percayalah hari itu pasti akan datang.

Terlalu enggan diceritakan dalam versi aslinya
Surabaya, Desember 2017. 

Komentar

Postingan Populer